Rabu, 11 Januari 2017

Ketika Cinta Harus Memilih

keputusan yang sudah bulat akhirnya harus dibolongin lagi, keputusan kami bagaikan sebuah kue donut yang sudah bulat tapi tak lengkap jika tidak dibolongi tengahnya. situasi ini bagaikan buah simalakama, beberapa pertimbangan yang sangat rasional harus didahulukan. entah mengapa kebahagiaan ini tak pernah lengkap. ataukah aku yang kurang mengucap. ataukah ini resiko pernikahan antara dua negara, lalu harus terpisah karena sebuah kata "mengabdi" selalu saja ada labirin yang rumit untuk dilewati.

aku pulang...
kembali ke kehidupanku yang kemarin, dimana aku dan dua putraku kembali berjuang bersama, meninggalkan kekasihku sekaligus sahabatku tercinta yang selama ini memanjakanku dan memberikanku perlindungan sempurna. tapi hidup tak pernah sesimpel itu, hidup bagaikan rumus fisika quantum, kami kembali surut selangkah, memutuskan untuk berjuang bersama karena hidup tak sekedar cinta,hidup ini realita yang harus dihadapi dengan mata terbuka. hidup ini begitu nyata dimana segalanya harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

disana sesekali ku nelangsa mengingat buah hati yang kutitipkan, walaupun dipenuhi dengan fasilitas terbaik, adakalanya sapaannya menitikkan air mataku, menyetuh naluri keibuanku, mengguncang jiwaku yang tenang, walaupun ia hanya sekedar mengirim sebait kata "mah..." sebait kata yang sarat akan makna... dan sarat akan kerinduan,

disini beberapa hari sejak kuitinggalkan dia yang berdiri termanggu dan tertegun di antara sekat kaca pemisah diriku dan dirinya di bandara rangoon, kurasa separuh jiwaku tertinggal,separuh hatiku lupa kuminta kembali. hingga beberapa hari ini aku mengerti rasanya bagaimana menjadi mahluk semacam zombi,berjalan tanpa arah, hidup tapi tak berjiwa, bergerak tapi mati rasa, untung saja aku masih ingat menghirup udara, huuufh...

sesak... ada yang menghimpit disini... sebuah beban yang terasa berat.
hanya dengan menyebut nama Nya aku masih bisa bertahan
hanya dengan memandang wajah polos kedua putraku,aku merasa memiliki kekuatan untuk bangkit, dan menghadapi dunia diluar sana. hanya kalimat2 cinta yang dikirimkan oleh pasangan jiwaku yang bisa membuatku melangkah tegar. tanpa itu semua, aku hanyalah raga yang teronggok di atas peraduan dan tak mampu bergerak lagi.

sungguh dahsyat kekuatan cinta, cinta bisa membutakan nalar, mematikan akal,cinta membuat kita belajar lebih giat,cinta kadang membuat kita tersesat tetapi cinta jualah yang akan menemukan jalannya kembali.

Tunggu aku sekali lagi, pegang erat tanganku dan jangan pernah lepaskan.
karena hati kita masih saling menggenggam, cinta kita takkan pernah lekang

selamat berjuang separuh jiwaku yang tertinggal di kota Yangon.
sampai jumpa kembali cinta
selamat tidur sayang

Rumah Ungu, 100117, 00.00

ILoveU

3 komentar:

buwel 'ali' cikrik mengatakan...

Ceritanya akhirnya kembali ke Indonesia ya, yoda moga sukses selalu, maaf ikut mbaca mbaca...

Mentari Yousof mengatakan...

blog ini emang untuk dibaca,smoga bisa memberikan hikmah atau manfaat bagi yg baca

Winda Jubaidah mengatakan...

Keren nyah 😍
Inspirated